Entah sudah berapa kali surat itu datang. Arin tidak mau lagi menerimanya. Arin bosan. Pasti isinya tidak jauh berbeda dari surat-surat yang lalu. Hapsari,sahabat pena Arin yang berasal dari kota Surabaya itu, tidak bisa menulis surat. Setiap menulis surat,isinya selalu di ulang-ulang. Arin mengenal Hapsari lewat rubrik Sahabat Pena di sebuah majalah.
Di surat-surat yang lalu,Hapsari pernah menulis tentang indahnya kota pahlawan,tempat kelahirannya itu. Ia juga bercerita tentang Pantai Kenjeran yang katanya sekarang kotor. Ia juga cerita tentang jalanan di sana yang katanya sudah mulai macet seperti jalanan di Jakarta.
Lalu surat berikutnya,Hapsari juga menceritakan hal yang sama. Itulah yang membuat Arin bosan. Sekarang,ia tidak mau lagi membalas surat-surat temannya itu
.
Arin sering membandingkan Hapsari dengan Kak Angel. Kak Angel adalah sahabat pena Kak Lisa, kakak Arin. Kak Angel tinggal di Kalimantan. Anaknya cantik dan baik. Kak Lisa pernah menunjukkan foto Kak Angel pada Arin.
Kak Lisa dan Kak Angel sering bertukar hadiah. Isi surat-surat Kak Angel juga tidak membosankan. Kadang Arin diijinkan Kak Lisa untuk ikut membaca surat Kak Angel. Arin ingin sekali punya sahabat pena yang seperti Kak Angel.
"Koq,suratnya enggak dibaca,Rin?" tanya kak Lisa sepulang sekolah.
Kak Lisa melihat ada surat di atas meja. Pak Pos baru saja datang mengantarkan surat itu untuk Arin. Namun Arin langsung melemparkannya ke atas meja.
"Bosan," jawab Arin malas-malasan.
"Koq,bosan?" Kak Lisa mendekati Arin dan mengambil surat itu.
"Arin bosan punya sahabat pena? Padahal dulu Arin yang ngotot ingin punya sahabat pena. Sekarang sudah punya,kok, malah bosan?" tanya Kak Lisa.
"Soalnya isi suratnya begitu-begitu saja,membosankan. Kalau enggak cerita tentang kota kelahirannya,ya,cerita tentang penyakitnya. Kan,lama-lama aku bosan membacanya."
"Memangnya dia cerita tentang penyakitnya apa?" tanya kak Lisa penasaran.
"Dia bilang,sering pusing," kata Arin bersungut.
"Lo,seharusnya kamu menghibur dia,donk," kata kak Lisa. "Itulah gunanya sahabat pena. Kalau yang satu sedang sedih,yang lainnya harus bisa menghibur,begitu sebaliknya."
Arin mengangguk.
"Kalau Arin belum siap untuk punya sahabat pena,ya,jangan mencari sahabat pena," kata Kak Lisa,sambil membuka amplop surat dari Hapsari.
Kak Lisa baru membaca beberapa baris,tiba-tiba wajahnya berubah seketika.
"Kenapa, Kak?" tanya Arin penasaran.
Kak Lisa langsung memberikan surat dari Hapsari yang berjumlah tiga lembar itu. Tidak biasanya Hapsari mengirim surat sebanyak tiga lembar.Paling banyak hanya dua lembar.Arin segera membacanya. Ia nampak pucat begitu selesai membaca surat itu.
"Kasihan,kan,dia," kata Kak Lisa.
"Dia bertanya,kenapa kamu tidak mau lagi membalas surat-surat nya. Padahal dia bilang, kamu adalah teman yang bisa menghiburnya saat dia sedih. Sekarang dia mau operasi ginjal."
Arin menunduk sedih,merasa bersalah.
"Cepat kamu tulis surat untuknya," kata Kak Lisa.
Arin mengangguk.Ia langsung berlari ke kamarnya,mengambil bolpoint dan kertas surat bergambar Snoopy. Ia akan menulis surat untuk Hapsari sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar